Minggu, 18 Januari 2026

Informasi Digital Berbasis Visual

Minggu, 18 Januari 2026

Cyber Warfare sebagai Instrumen Geopolitik Baru dalam Konflik Regional

Photo: -Aldi Firmansyah

Aldi Firmansyah
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik
Universitas Siliwangi

Masa konflik telah berubah sebagai akibat dari era globalisasi teknologi informasi dan komunikasi. Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan dalam teknologi informasi seperti internet, komunikasi seluler, big data, dan kecerdasan buatan telah mengubah cara konflik terjadi, berkembang, dan diselesaikan. Konflik sekarang tidak hanya terjadi dalam bentuk militer biasa; sekarang juga terjadi melalui serangan siber, propaganda online, dan taktik asimetris lainnya yang memanfaatkan kekurangan dan kelemahan teknologi. Negara yang bergantung pada teknologi lebih rentan terhadap serangan, sabotase, atau gangguan infrastruktur teknologi penting.

Di antara domain perang darat, laut, udara, dan angkasa, ruang siber sekarang menjadi domain kelima. Fenomena ini disebabkan oleh perkembangan aktivitas siber yang terjadi secara cepat dan dapat mengambil alih sebagian besar aktivitas manusia biasa. Kondisi ini menunjukkan kemajuan peradaban pada satu sisi, tetapi juga menimbulkan kompleksitas ancaman yang tidak dapat dihindari. Bahkan saat ini, sebagian besar aktor, baik aktor negara maupun non-negara, menggunakan internet sebagai media favorit mereka untuk melakukan serangan yang dapat mengganggu stabilitas nasional suatu negara. Ancaman perang siber telah berkembang pesat dan memengaruhi dinamika strategis di lingkungannya. United Nations (PBB) telah mengakui dampak aktivitas siber terhadap kepentingan nasional. Akibatnya, negara-negara diminta untuk membangun pertahanan siber nasional.

Salah satu dampak dari arus globalisasi adalah meningkatnya ancaman di ruang siber, yang menyebabkan masyarakat beralih dari aktivitas manual ke aktivitas yang bergantung pada teknologi informasi dan komunikasi. Mengingat dunia saat ini telah memasuki fase Revolusi Industri 4.0, wacana geopolitik menjadi semakin kompleks. Dalam struktur industri baru ini, Artificial Intelligence (AI), Big Data, cloud, Internet of Things (IoT), dan teknologi seluler telah secara fundamental mengubah sektor ekonomi, bisnis, politik, budaya, dan kehidupan masyarakat global.

Pada dasarnya, kemajuan dalam teknologi informasi dan komunikasi, termasuk jaringan internet dan ruang siber, merupakan komponen penting dari infrastruktur baik di negara maupun di seluruh dunia. Walau bagaimanapun, karena ada banyak jaringan dan sistem kritis yang bertanggung jawab atas berbagai aspek sosial, ekonomi, politik, dan militer, ruang siber menjadi sasaran yang menarik bagi kelompok tertentu yang ingin membahayakan keamanan nasional. Karena Negara-negara maju telah memanfaatkan teknologi ruang siber untuk mendukung operasi militer mereka, fenomena ini tentu menjadi tantangan sekaligus tuntutan bagi Negara-negara untuk memperkuat keamanan ruang siber mereka dan melakukan persiapan dini untuk melindungi kepentingan nasional mereka melalui aksi militer.

Baca Juga  Turnamen Catur Nasional Meriahkan HUT RI ke-80 di Jambi, Diikuti Pecatur Master dan FIDE Se-Sumatera

Ancaman perang siber menunjukkan persepsi bahwa dunia maya, juga dikenal sebagai ruang siber, saat ini menjadi tempat baru untuk serangan dan konflik antara negara. Sistem dan infrastruktur penting dalam sektor publik dan swasta sangat bergantung pada jaringan internet dan sistem informasi dalam era teknologi informasi yang semakin maju. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap negara untuk menjaga dan menjaga aset digital mereka. Karena ancaman siber tidak mengenal batas negara dan waktu, serangan siber dan aktivitas keamanan siber menjadi bagian dari upaya untuk mencapai keunggulan militer dan diplomasi melalui jaringan dan sistem teknologi informasi. Ancaman di ruang siber dapat berdampak besar pada kekayaan dan infrastruktur suatu negara, termasuk keamanan nasional dan stabilitas global.

Sebagai domain perang baru, ruang siber didefinisikan sebagai perang yang terjadi melalui jaringan komputer dan sistem informasi, seperti internet. Dalam situasi seperti ini, pelaku siber, baik negara, organisasi, maupun individu, melakukan serangan dengan memanfaatkan jaringan komputer dan sistem informasi. Penetrasi sistem, phishing, malware, dan lainnya adalah beberapa contoh serangan ini yang bertujuan untuk mengakses, merusak, atau mencuri informasi penting.

Cyber warfare telah menjadi instrumen geopolitik baru yang sangat efektif dalam konflik regional, seperti yang terlihat dalam konflik Iran–Israel. Model strategi Arthur Lykke yang menekankan keseimbangan antara tujuan (ends), cara (ways), dan sumber daya (means) sangat berguna untuk memahami dinamika penggunaan perang siber ini. Tujuan strategis yang ingin dicapai berupa melemahkan kekuatan lawan dan menguasai informasi intelijen, sementara metode yang dipakai mencakup serangan malware, DDoS, sabotase, dan kampanye. Keseimbangan antara ends, ways, dan means memastikan bahwa strategi cyber warfare dapat dijalankan secara efektif, menghindari risiko kegagalan akibat tujuan yang terlalu ambisius atau sumber daya yang tidak memadai.

Pada tahun 2025, konflik antara Iran dan Israel tidak hanya berkutat pada ranah fisik, tetapi juga telah merambah ranah siber dengan intensitas tinggi. Laporan keamanan mengungkap lonjakan 700% serangan siber ke Israel, yang dilakukan oleh kelompok hacker pro-Iran dengan target utama infrastruktur penting seperti lembaga keuangan, situs pemerintah, dan layanan telekomunikasi. Teknik yang digunakan meliputi DDoS, malware, pencurian data, dan manipulasi informasi untuk melumpuhkan dan mengganggu stabilitas Israel.

Baca Juga  Ditinggal Mudik Oleh Pemilik, Rumah di Mestong di Kuras lalu di bakar Oleh Tetangga

Sebaliknya, Israel melancarkan serangan siber presisi tinggi pada fasilitas nuklir dan militer Iran melalui operasi yang dikenal sebagai “Operasi Kebangkitan Singa”, yang memanfaatkan malware khusus dan intelijen canggih. Iran bahkan berhasil meretas kamera pengawas Israel untuk mendukung serangan rudal, memperlihatkan integrasi antara perang siber dan operasi kinetik militer. Studi kasus ini menegaskan bagaimana cyber warfare digunakan sebagai alat strategis dalam konflik regional, di mana serangan siber tidak hanya menimbulkan kerusakan teknis tetapi berdampak signifikan secara ekonomi, politik, dan psikologis.

Konflik siber Iran–Israel menunjukkan bahwa ruang siber kini menjadi medan pertempuran utama yang berdampak pada stabilitas dan keamanan global. Konflik ini mengakselerasi polarisasi blok kekuatan digital, dengan keterlibatan tidak langsung kekuatan besar seperti AS, China, dan Rusia yang memengaruhi dinamika aliansi dan strategi global. Selain itu, penggunaan perang informasi dan disinformasi terjadi secara intens dan berdampak pada stabilitas sosial serta kepercayaan publik di negara-negara yang terlibat. Perlombaan teknologi pertahanan siber pun meningkat, dengan negara-negara memperkuat kapabilitasnya dan memperluas kerja sama internasional di bidang keamanan digital. Keseluruhan dinamika ini menunjukkan bahwa kekuatan geopolitik masa depan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas militer konvensional, tetapi juga oleh keunggulan teknologi dan kemampuan menguasai ruang digital.

Cyber warfare telah menjadi instrumen geopolitik baru yang sangat efektif dalam konflik regional, seperti yang terlihat dalam konflik Iran–Israel. Dengan menggunakan model strategi Arthur Lykke, terlihat bahwa tujuan strategis dapat dicapai melalui metode serangan siber yang canggih dan dukungan sumber daya teknologi serta intelijen yang memadai. Konflik ini menegaskan bahwa ruang siber kini adalah arena krusial dalam menentukan keseimbangan kekuasaan global. Perang siber mengubah paradigma pertahanan dan keamanan dengan dampak signifikan bagi stabilitas politik dan sosial. Oleh karena itu, sangat penting bagi negara-negara untuk meningkatkan strategi keamanan siber dan mempererat kerja sama internasional guna mengantisipasi risiko eskalasi konflik dalam ranah digital.

Berita Terbaru

Berita Terupdate

Info Kabar Jambi

Informasi Digital Berbasis Visual

social network

tentang ikj